Cari Blog Ini

Memuat...

Logo

 photo ade-2.gif

Label

Diberdayakan oleh Blogger.

Easy

  • AGAMA AGAMA
  • DAFTAR ISI DAFTAR ISI
  • HOME HOME
  • LAIN-LAIN LAIN-LAIN
  • SEJARAH SEJARAH


Sejarah Bangunan Masjid

Seperti yang dijelaskan pada tulisan Masjid-Majid bersejarah Bagian Pertama, Bahwa Masjid pertama dibangun adalah Masjid Quba -Sekitar 10 Km dari Mekah ke Madinah, akan tetapi bangunan Masjid yang selama ini menjadi prototipe masjid-masjid di dunia Islam adalah Masjid yang dibangun nabi Muhammad & Para Sahabatnya di Madinah, kini dikenal dengan Masjid Nabawi, Bagaimana wujud bangunan masjid ini pada awalnya tidak diketahui, Menurut rekonstruksi para ahli, Masjid Nabawi berdenah segi empat, dikelilingi tembok dan tanah liat, tanpa atap (terbuka) bagian yang dipakai untuk sholat diberi atap dari pelepah daun kurma dan tanah liat ditopang oleh tiang-tiang (Tonggak-tonggak) dari pohon kurma, pada salah satu dindingnya terdapar tuang untuk tempat tinggal Nabi Muhammad SAW dan keluarganya,sedangkan pada bagian yang berlawanan dengan tempat salat terdapat bagian yang disediakan untuk tempat para sahabat yang miskin & tidak memiliki tempat tinggal (Frishman 1994:32; Sumalyo 2000:30) Bagian ini disebut Saffah sedangkan penghuninya disebut alisuffah:

Elemen-elemen masjid

Secara umum elemen-elemen yang harus ada pada setiap Masjid adalah demarkasi ruang, dinding Kiblat, Kolam, Menara & Pintu Masuk, Mimbar biasanya ditempatkan disebelah kanan Mihrab yang dilengkapi anak tangga untuk naik ke tribun (Panggung), Elemen Lain yang menjadi ciri Masjid Nusantara ialah Beduk atau Kentungan (Jawa) Kohkol (Sunda) yang ditempatkan diserambi masjid,  Bangunan lain yang terkadang ditemukan di halaman masjid tua adalah istiwa, makam kantor pengurus Masjid & Perpustakaan

Asal-usul & ciri umum Masjid di Nusantara

Berbicara mengenai asal  usul bangunan atau prototipe masjid di indonesia para ahli bersilang pendapat, WF Stuttterheim melihat adanya bagian-bagian dari masjid yang berasal dari kesenian Indonesia sebelum Islam dan menghubungkan asal-usul masjid Indonesia dengan bangunan gelanggang tempat menyambung ayam (hanenklopbaan) di Bali yang dikenal dengan wantilan . Bangunan tersebut berdenah segi empat beratap tumpang tanpa dinding menurut Stutterheim, bangunan gelanggang tempat menyambung ayan setelah ditutupi pada keempat sisinya telah menjadi bangunan masjid yang sederhana, setelah ini baru ditambah dengan bagian menjorok sebagai mihrabnya.

Pendapat Stutterheim mendapat bantahan dari H.J. de Graaf dalam artikelnya Graaft menyatakan bahwa tidak mungkin orang islam memilih bangunan gelanggang tempat menyambung ayam sebagai bentuk dasar bangunan Masjid karena bangunan tersebut adalah bangunan tempat berjudi, Selain ini bangunan tersebut hanya dikenal di Jawa & bali tidak pernah ditemukan di tempat lain De Graaf mengajukan teori bahwa prototife bangunan masjid di Indonesia tidak berdasarkan atas bangunan yang ada di indonesia tetapi dari  bentuk Masjid yang berada di daerah Gujarat (India) untuk memperkuat teorinya dia merujuk pada masjid di Malabar yang atapnya bertingkat seperti halnya masjid-masjid di indonesia. Informasi tentang masjid di malabar diperoleh Graaf dari berita Jan Huygen van Linschoten seorang belanda yang datang ke india pada abad ke 16. 

Di Taluk, Sumatra Barat, ada masjid dengan atap bertingkat, yang menurut de Graft, prototitipenya berasal dari Gujarat. Selain bertingkat , Majid Teluk dikelilingi parit berisikan air untuk berwudhu, keadaan seperti ini dijumpai juga pada seluruh bangunan masjid di Indonesia 

Melanjutkan  Masjid-masjid bersejarah di Jakarta untuk tulisan kali ini akan dimulai dengan masjid

13.MASJID MANGGA DUA

encyclopedia/0a8610328e47c1dc8bf50dcfd45e573fDi Kampung Mangga di tempat Masjid Mangga Dua yang berdiri pada abad ke 18, saat wilayah ini masih berupa sebuah kampung yang sepi dan banyak rawa serta semak belukar mata pencaharian penduduk dikawasan ini yaitu bercocok tanam, berdasarkan kebijakan VOC, kawasan ini sebagai tempat tinggal untuk orang VOC, kawasan ini sebagai tempat tinggal untuk orang jawa, Selain untuk pemukiman orang Jawa , disekitar masjid terdapat pula makam-makam orang yang yang pernah bermusuhan dengan kolonial seperti Ateng Kartadriya merupakan sahabat dari Pieter Eberveld yang dihukum mati oleh VOC dengan cara tangan dan kakinya ditarik kuda atau disebut pecah kulit, Lokasi tempat hukuman ini sekarang bernama Kampung pecah kulit, Juga terdapat Makam Souw Beng Kong, seorang kapiten cina pertama batavia yang diangkat oleh J.P Coen , tidak diketahui pasti tahun pendirian masjid ini namun menurut cerita yang berkembang, masjid ini asalnya dari sebuah rumah belanda yang dialih pungsikan sebagai masjid, Sebagai penanda bahwa rumah tersebut digunakan sebagai masjid, maka atap bentuk bertingkat, serta ditambahkan mustaka pada puncaknya.
Tahun 1986 masjid dipugar secara total kemudian direnovasi kembali dan diperluas sisi barat dan ditinggikan satu meter .
Di ruang masjid terdapat makam R.d Tumenggung Anggakusumah Dalem Gadjah Batoe Lajang dan Makam Alwi bi Ahmad Jamalulail. menurut masyarakat setempat pemilik makam ini masih kerabat Gubernur DKI Ali Sadikin, selain itu terdapat juga makam Habib Abu Bakar bin Alwi Bahsaan Jamalulail.

14 MASJID AT-TAIBIN

Salah satu masjid tua dari masa awal abad 19 terJetak di JI. Kali Lio dipugar total waktu rumah-rumah penghuni Segi Tiga Senen di hancurkan untuk menyediakan tempat bagi kompleks yang dari segi arsitektur dan perencanaan kota sangat kurang memadai. Dalam waktu bersamaan dua klenteng khas abad ke-19 juga dibongkar untuk menyediakan tempat bagi suatu hotel Jepang. Untunglah, Masjid at Taibin yang beberapa kali berganti nama tetap berhasil diselamatkan dan akhirnya dipugar tahun 1977.

Masjid At Taibin didirikan oleh para pedagang pasar senen pada tahun 1815 dengan memadukan gaya bangunan Eropa dan Tradisional  Indonesia. Pada mulanya disebut Masjid Kampung Besar. Empat soko guru yang berjajar lurus dan menopang atap, terbuat dari kayu jati hitam dan nama orang yang menyumbangnya tertera di bagian atasnya. Masjid itu baru dicatat pada suatu peta Batavia dari tahun 1918. Semasa Revolusi digunakan sebagai tempat logistik untuk mendukung para pejuang.
Masjid at-Tabiin, yang berarti pengikut merupakan salah satu saksi bisu dalam perjuangan bangsa, Saat Revolusi kemerdekaan, masjid ini pernah dijadikan markas Divisi siliwangi  dan dari masjid inilah para ulama memberikan semangat  kepada pejuang  untuk melawan Belanda.

Pada tahun 1980 saat dibangun Segi Tiga Pasar Senen, Masjid ini dapat diselamatkan dari rencana penggusuran , pada tahun 1996 melalui dinas  Museum dan Sejarah  DKI Jakarta dilakukan pemugaran terhadap atap masjid setahun kemudian dengan mengganti lantai dari marmer.


15 MASJID  LANGGAR TINGGI

Sejarah Masjid Langgar Tinggi, Pekojan – Jakarta

Masjid ini dulunya berpungsi sebagai langgar atau mushola,  Kali Angke di abad ke 19 merupakan jalur perdangan dan transportasi utama di kota Batavia. Salah satu dari saudagar yang hilir mudik di sungai ini kala itu adalah saudagar Muslim arab asal Yaman bernama Abubakar Shihab yang kemudian membangun sebuah langgar berlantai dua di tepian kali Angke pada tahun 1249 Hijirah bertepatan dengan tahun 1829M yang kemudian disebut sebagai Langgar Tinggi. Disebutkan bahwa langgar tinggi dibangun  di atas tanah wakaf dari Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi. (Adolf Heuken SJ dalam bukunya, Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2003)

Langgar Tinggi dibangun dengan luas lantai dasarnya 8 meter x 24 meter. Lantai atas digunakan sebagai masjid. Sebagian lantai bawah digunakan sebagai penginapan para pedagang yang mondar-mandir dengan perahu dan rakit. Termasuk penginapan untuk para kolega Abubakar Shihab dari luar kota. Sebagian lagi dijadikan tempat tinggal pengurus masjid. Kini, seluruh lantai bawah digunakan untuk toko perangkat shalat, termasuk tasbih, buku-buku agama, serta minyak wangi khas Timur Tengah dan India. Ada minyak misik, minyak buhur, sampai minyak ular. 

 Dahulu banyak perahu dan rakit dari Tangerang menyusur Kali Cisadane masuk Kali Angke membawa bahan bangunan, kain, rempah-rempah, duren, nangka, dan kelapa, menuju pusat kota lama. Sebelum masuk kota, perahu dan rakit-rakit itu biasanya sandar di belakang langgar. Ketika itu Kali Angke masih bersih dan dalam. Kepengurusan Masjid Langgar TInggi ini yang kemudian dilanjutkan oleh keturunan beliau. Saat ini diketuai oleh Ahmad Assegaff Bin Alwi bin Abdurrahman, bin Segaff, bin Husain, bin Abu Bakar.

Pada bulan November tahun 1833 Langgar Tinggi diperluas oleh Syekh Said Naum. Said Naum adalah seorang Kapitan Arab untuk wilayah Pekojan yang juga saudagar muslim kaya raya dari Palembang. Ia juga memiliki sejumlah armada kapal dan menjadi tuan tanah. Banyak tanahnya yang diwakafkan untuk masjid di Batavia. Semasa hidupnya juga menghibahkan sebidang tanah cukup luas untuk pemakaman umum muslim. Kini di atas tanah wakaf beliau berdiri sebuah Masjid Said Naum yang dibangun di era pemerintahan Ali Sadikin menjadi gubernur DKI. Masjid yang karena arsitekturnya memperoleh penghargaan dari Aga Khan Award. 

Arsitektural Masjid Langgar Tinggi

Seperti telah disinggung di muka, Langgar Tinggi memiliki unsur arsitektural perpaduan Melayu, Eropa klasik, Thionghoa dan Jawa. Unsur seni bina bangunan melayu tampak pada bentuk rumah panggung, Eropa klasik seperti tampak pada pilar pilar bundarnya yang kokoh, unsur seni bina bangunan China tampak pada penyangga balok-balok kayunya, dan unsure Jawa pada denah dasarnya. Sentuhan budaya melayu juga tampak pada Mimbar masjid diperkirakan berasal dari Palembang.

Said Naum yang berasal dari Palembang sedikit banyak membawa tradisi melayu Sumatera ke dalam reka bentuk dan seni bina Langgar Tinggi bila anda berkesempatan berkunjung ke wilayah Palembang atau bagian Sumatera lainnya, reka bentuk bangunan seperti langgar tinggi ini memang lumrah disana. Beberapa bangunan tua di pinggiran Sungai musi Palembang dapat dengan mudah ditemukan bangunan seperti ini baik dalam bentuk asli melayu ataupun bangunan dengan perpaduan beragam budaya seperti Langgar Tinggi.

Bangunan masjid Langgar Tinggi ini terdiri dari dua lantai, lantai atas dipakai sebagai masjid sedangkan lantai bawah nya kini seluruhnya dipergunakan sebagai ruang toko. Lokasinya yang berada di tepi jalan raya menjadikannya cukup strategis untuk digunakan sebagai area perdagangan. Di dekat Langgar Tinggi terdapat sebuah jembatan kecil yang dinamai Jembatan Kambing. Dinamakan demikian, karena sebelum dibawa untuk disembelih di pejagalan (sekarang bernama Jalan Pejagalan), kambing harus melewati jembatan yang melintasi Kali Angke ini terlebih dahulu. Para pedagang di sini telah berdagang secara turun-temurun selama hampir 200 tahun.

16. MASJID  CUT MEUTIA

 Masjid Cut Mutiah ( Masjid Boplo) merupakan masjid yang menempati bangunan tua di wilayah Menteng NV Bouwploeg-sebuah biro arsitektur untuk pembangunan kawasan Niew Gondangdia, dari mana biro inilah nama Boplo berasal Bangunan dibangun tahun 1912 dan dirancang sendiri oleh PAJ Mooejen .NV 

Bouwploeg hanya 13 tahun menempati gedung ini, adalah salah satu masjid yang terletak di Jalan Cut Mutiah Nomor 1, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia. Bangunan masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah dari zaman penjajahan kolonial Belanda. Masjid ini memiliki keunikan tersendiri dan kemungkinan tidak terdapat di masjid-masjid lainnya. Salah satu keunikannya, mihrab dari masjid ini diletakkan di samping kiri dari saf salat (tidak di tengah seperti lazimnya). Selain itu posisi safnya juga terletak miring terhadap bangunan masjidnya sendiri karena bangunan masjid tidak tepat mengarah kiblat.


 Masjid ini dulunya adalah bangunan kantor biro arsitek (sekaligus pengembang) N.V. (Naamloze vennootschap, atau Perseroan terbatas) Bouwploeg, Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879 - 1955) yang membangun wilayah Gondangdia di Menteng.

Sebelum difungsikan sebagai mesjid sebagaimana sekarang, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang (1942 - 1945). Setelah Indonesia merdeka, ia pernah dipergunakan sebagai kantor Urusan Perumahan, hingga Kantor Urusan Agama (1964 - 1970).[1] Dan baru pada zaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin diresmikan sebagai masjid tingkat provinsi dengan surat keputusan nomor SK 5184/1987 tanggal 18 Agustus 1987.[2]

Awalnya masjid ini bernama Yayasan Masjid Al-Jihad yang didirikan oleh eksponen '66 seperti Akbar Tanjung dan Fahmi Idris.[2] Pada kurun waktu orde lama, gedung ini juga pernah dijadikan gedung sekretariat MPRS.

Nama Bouwploeg sendiri kini masih tersisa dalam ingatan sebagai nama Pasar Boplo di barat stasiun kereta api Gondangdia.
 



 




>> - MASJID-MASJID BERSEJARAH DI JAKARTA BAGIAN II (HABIS)